Minggu, 09 Februari 2014

Membangun Rasa Percaya diri pada anak

Orang tua pada dasarnya tidak perlu khawatir apabila sibuah hati bersikeras ingin makan dan memilih baju sendiri, hal ini menunjukkan bahwa dia sedang berusaha mandiri.

Kemandirian sangatlah berkaitan erat dengan rasa percaya diri pada anak, hal ini diungkapkan oleh Dra Miranda Zafriel, Psokolod dari Universitas Indonesia. Lebih lanjut lagi seorang Psikososial asal AS Erik Erikson mengungkapkan bahwa anak mulai bealajar membangun rasa percaya diri saat usia mereka menginjak 2 tahun, dan pada rentang usia antara 2 sampai dengan 3 tahun, adalah fase otonomi.

Ketika si anak sudah mulai fasih memanjat, melompat, berjalan, dan berlari saat ini pula keinginan mandiri pada anak mulai muncul. Dia mulai sadar bahwa dia adalah seorang individu yang mampu mengerjakan banyak hal, dan mulai sadar bahwa dia adalah

seseorang yang mampunyai keinginan sendiri dan mampu mengerjakan sesuatunya secara sendiri pula. Dia bahkan sangat ingin mengerjakan segala sesuatu tanpa campur tangan orang lain.

Rasa Percaya diri Tidak dibawa dari Lahir

Sejak lahir konsep tentang diri adalah netral, konsep diri inilah yang akan membentuk harga diri. Apabila seseorang menghargai dirinya lebih condong positif maka kepercayaan diri anak tersebut akan tinggi dan sebaliknya apabila dia condong lebih negatif maka kepercayaan dirinya akan rendah. Tentu saja rasa percaya diri anak tidak dibawa sejak dia lahir, nyatanya pengaruh orangtua dan lingkungan sangat dominan dalam tumbuh kembang mental si anak. Batita sudah mempunyai rasa "aku bisa" yang sangat penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri, yang kadangkala banyak orang tua yang tidak menyadari hal tersebut.

Pasa saat anak berusia antara 4-6 tahun dia memasuki masa inisiatif. Banyak hal yang mampu menumbuhkan rasa percaya dirinya, diantaranya adalah aktif di dalam kelas dan memasak bersama dengan teman-temannya. Orang tua harus membiarkan anaknya bebas berinisiatif, hal ini akan mendongkrak rasa percaya diri mereka. Hal ini sangat bertolak belakang apabila dia tidak bebas berinisiatif, maka rasa percaya dirinya akan terus turun, walapun pada rentang usia sebelum empat tahun sudah muncul rasa percaya diri yang baik pada anak. 


Pada saat sikelcil sudah mulai sekolah, saat inilah percaya dirinya mulai terlihat dan terus berkembang. Berbagai macam prestasi akademik atupun pencapaian non akademik akan mampu meningkatkan rasa percaya dirinya. Rasa percaya diri anak tumbuh seiring dengan pujian, cercaan, penghargaan, apresiasi, dan kritik yang dia terima. Tugas kita sebagai orang tua adalah menciptakan rasa aman bagi mereka, memberikan kesempatan mereka untuk belajar mandiri. Kadangkala mereka bersikeras mengerjakan berbagai pekerjaan yang terbilang rumit untuk level mereka, nah inilah beberapa solusi dalam menghadapi hal tersebut:

- Ingin makan sendiri
Biarkanlah anak anda belajar makan sendiri walaupun nanti akan belepotan hasilnya. Kita akan mengurangi berbagai efek negatif yang mereka timbulkan seperti rontokan makanan dimana-mana, termasuk karpet, tembok, baju dan lain-lain. Nah saat mengijinkan anak makan sendiri katakan pada mereka bahwa makanan tidak boleh melewati garis batas yang anda buat sendiri. Selain itu pindahkan karpet yang dapat menyerap noda, atau bahan-bahan lain yang sifatnya mudah kotor. Berikanlah mereka serbet atau tisu untuk menyeka mulutnya, sehingga dia juga belajar membersihkan diri. Apabila dia selesai makan berilah pujian dan senyum yang ikhlas, anda bisa memberikan mereka pujian yang dapat meningkatkan rasa percaya dirinya untuk mencoba hal-hal baru.


- Ingin menyisir rambut sendiri
Lagi lagi biarkanlah mereka menyisir rambut sendiri, hal ini memang sangatlah sulit terutama bagi mereka yang baru belajar. Mungkin mereka akan bersusah payah untuk menciptakan gaya rambut yang mereka inginkan, dan hasilnya pun pasti tidak karuan. Disinilah pentingnya peran orang tua. Hargailah hasil kerja keras mereka dengan memberikan tepuk tangan atau pujian ketika berhasil menyelesaikan tugas menyisir rambut. Awasilah ketika mereka menyisir karena bisa jadi rambut mereka akan tertarik tarik dan tersangkut sisir. Untuk daerah belakang kepala biasanya mereka juga belum bisa, nah anda bisa memberikan mereka pujian kemudian meminta dengan lembut agar dapat anda bantu. Selalu hargai kerja mereka, dan sesekali mintalah mereka menyisir rambut anda sebagai bentuk penghargaan. 


- Ingin memilih pakaian sendiri
Tatalah lemari anak sedemikian rupa agar mudah bagi mereka untuk menemukan pakaian yang mereka cari. Misalnya laci paling atas berisi pakaian untuk keluar rumah, laci tengah berisi pakaian untuk dikenakan sehari-hari dalam rumah dan laci paling bawah diisi dengan pakaian dalam. Apabila mereka akan pergi ke rumah nenek misalnya, sidia hanya akan mengobrak abrik laci yang paling atas yang berisi pakaian untuk keluar rumah sehingga anda tidak perlu merapikan laci tengah dan bawah. Opsi lain adalah menanyakan baju apa yang ingin mereka kenakan besok untuk kerumah nenek. Apabila dia ingin baju doraemon, maka siapkanlah baju tersebut di laci paling atas dan tumpukan paling atas sehingga mereka langsung bisa mengambil pakaian tanpa mencarinya lagi.


- Ingin Mandi Sendiri
Hal ini memang terdengar sedikit membahayakan apabila kita menginzinkan si anak mandi sendiri, karena biasanya orang tua takur anaknya terpeleset, terbentur, atau mandi dengan cara yang salah dan tidak bersih. Namun kita bisa menyiasati berbagai masalah diatas dengan bijak yakni dengan cara memberikan alas yang tidak licin, menyediakan sabun mandi dan sabun muka yang tidak pedih di mata serta memeriksa temperatur air agar tidak terlalu panas/dingin.

Hal penting lain untuk di pertimbangkan adalah membatasi waktu mandi. Sebelum mandi buat kesepakantan dengan sidia, berapa menit maksimal yang diperbolehkan, kemudian set alarm. Saat alarm berbunyi anak harus konsekuen dengan janji yang telah dibuat sebelumnya.

- Ingin Menggunting Kertas Sendiri
Buat anak gunting bisa saja merupakan mainan yang mengasyikkan, karena mampu membuat kertas dengan bentuk bentuk tertentu dengan cara yang cukup mudah. Namun hal itu tidak berlaku pada orang tua karena seringkali mereka khawatir tangan anak dapat terluka apabila belum bisa atau tidak bisa mengoperasikannya dengan hati-hati. Sebagai solusi anda dapat menggunakan gunting khusus anak, yang telah didisain khusus untuk keamanan mereka. Biarkanlah mereka bermain sesuka hati, dan pada tahap-tahap awal mintalah mereka menggunting bentuk-bentuk yang sederhana, jangan terlalu rumit. Apabila anak sudah bisa, anda bisa meningkatkan level kesulitannya dan mintalah mereka menempel potongan-potongan tersebut menjadi satu. Kalau perlu suruh mereka bercerita tentang potongan-potongan kertas yang mereka buat. Terakhir berilah pujian atas kerja keras mereka, hal ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian mereka. Jika dia sudah cukup mampu anda bisa memberikan gunting umum, yang penggunaannya pertama kali harus kita awasi.


Bagaimana menanamkan rasa percaya diri pada anak:

Menjadi orang tua yang percaya diri
Seperti kita tahu bahwa anak adalah peniru yang ulung, hal ini termasuk juga dalam perihal rasa  percaya diri. Mereka akan meniru perilaku orang tua, termasuk rasa percaya diri orang tuanya. Jadilah orang tua yang tanggap, cekatan, suka memuji, dan kreatif. Tunjukkan selalu sifat-sifat baik tersebut didepan anak. Orang tua tidak perlu menepuk-nepuk dada atau berkata dengan lantang bahwa mereka adalah orang yang percaya diri. Cukup tunjukkan dengan sikap dan perbuatan yang dapat dicontoh.

Menciptakan Lingkungan yang mendukung pertumbuhan rasa percaya diri mereka
Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, termasuk dirumah anda sendiri. Apabila lingkungannya aman dan menyenangkan tentu si anak akan lebih menyukai pelajaran "percaya diri" ini.

Jangan Pernah Mendikte anak

Ini adalah kesalahan yang banyak dibuat oleh orang tua di Indonesia. Mereka kerap mendikte anak-anaknya, misalnya dengan kata-kata: menyisirnya jangan berantakan, makannya jangan belepotan, mandi harus bersih dan tidak menyukai pilihan baju mereka. Berhentilah melakukan hal tersebut. Perkataan harus begini dan harus begitu justru akan menghilangkan rasa percaya diri pada anak. Bersikaplah fleksibel, dan biarkan mereka mengembangkan imajinasinya.

Jadilah Orang Tua yang Mempercayainya
Percayalah pada kemampuan anak anda, karena apabila bukan anda siapa lagi yang akan percaya kepada mereka. Biarkanlah mereka mandiri dengan melakukan hal-hal kreatif yang membuatnya senang. Berilah pujian dan jangan mengejek apabila terjadi kesalahan. Anak sangat butuh kita support, namun kita harus tetap menjaga batasan-batasan sekiranya hal tersebut dapat membahayakan si anak.


 

4 komentar: